Ada pesan dari jauh
Pesan ini sebenarnya udah lama, tapi tetep ajah membuat saya penasaran dan tidak saya hapus di daftar pesan akun facebook. Pesan datang dari antah berantah, yang intinya mengabarkan bahwa “sodara” saya meninggal karena kecelakaan pesawat dan saya lah orang satu-satunya yang masih ada hubungan “sodara” dengan si korban, dan saya sepertinya disuruh untuk mengambil uang pertanggungan asuransi dari si korban yang jumlahnya sangat besar, USD 20,7 Million, wow ….
Lebih lengkapnya isi imel tersebut adalah seperti ini :
Jenuh dengan pekerjaan anda?
Kian hari Anda merasa tak bergairah, bahkan merasa semakin sulit menemukan inspirasi untuk menyelesaikan pekerjaan. Rasanya, ada saja yang bikin hati jadi tidak sreg menyelesaikan pekerjaan. Mulai dari alasan butuh ngopi dulu, butuh ngobrol dulu, chatting dulu, ngemil dulu, dan sebagainya. Sampai-sampai waktu terbuang percuma. Hasil kerja pun jadi tak maksimal. Bila dilihat kembali secara jernih, inti permasalahannya memang ada pada diri Anda sendiri, yang sudah kehilangan gairah dalam pekerjaan. Masalah semacam ini, merupakan hal yang wajar terjadi.
Yang perlu kita lakukan pertama adalah cari tahu apa penyebab anda jenuh dengan pekerjaan anda. Anda perlu mengidentifikasi masalah mana yang sebenarnya menyebabkan Anda jenuh. Jika pekerjaan menuntut Anda selalu mengerjakan hal yang sama setiap hari berulang kali, wajar jika terjadi kejenuhan. Pekerjaan yang tak menimbulkan tantangan, seringkali membuat Anda jadi tak mampu berinovasi.
Contoh Keteladanan Umar Bin Abdul Aziz RA
Negeri ini sangat memerlukan pemimpin yang bukan saja kapabel, tapi juga kredibel. Sebab, –sekarang dan ke depan- kita berada di sebuah dunia yang makin sarat tantangan. Hal yang demikian, jelas tak memadai jika negeri ini tak dikelola oleh rezim kredibel, yang didukung penuh oleh rakyat.
Kredibilitas terkait dengan –antara lain- keteladanan. Kredibilitas bergantung kepada satunya kata dan perbuatan. Sayang, justru di aspek ini, performa rata-rata pemimpin kita menyedihkan.
Negeri ini, miskin pemimpin berkategori teladan. Perhatikanlah, misalnya: Cukup sering pemimpin/pejabat meminta rakyat untuk berhemat, dan hal yang sama diinstruksikan pula kepada pejabat (di level yang lebih bawah). Misal, pernah ada seruan untuk menggunakan fasilitas negara secara proporsional. Tapi, ternyata, seruan ini tak disertai contoh yang memadai dari sang pemimpin/si penyeru.
Gemmar Mengaji
Ya benar, anda tidak salah mengeja atau membaca, emang begitu tulisannya. Gemmar Mengaji emang sebuah singkatan dari Gerakan Masyarakat Maghrib Mengaji. Gerakan ini diluncurkan oleh Menteri Agama Suryadharma Ali, bertempat di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (30/3/2011). Dalam pembukaan gerakan tersebut, Menag mengatakan bahwa Gemmar Mengaji merupakan gerakan moral untuk mengembalikan budaya mengaji. Mengaji sejak dahulu telah menjadi budaya masyarakat Indonesia. Namun akhir-akhir ini mengaji sudah mulai ditinggalkan. Masjid-masjid kosong, tak ada lagi aktifitas pengajian. “ Kita sangat sulit mendapati anak-anak, remaja, bahkan orang tuas yang mengaji di Masjid-masjid atau mushalla. Umat kita lebih asyik di depan televisi daripada mengaji”, ungkapnya.
Kondisi ini menurut Menag, berkontribusi pada melemahnya ikatan keumatan, sehingga umat Islam mudah dimasuki berbagai paham menyimpang. Hal ini jelas memudahkan masuknya berbagai paham yang sesat. Dengan semakin jauhnya umat dari mengaji, akan sangat rentan untuk dimasuki paham-paham sesat yang datang dari orang-orang yang tak bertanggung jawab.
Donor Darah? Yuk Mari ….
Barusan ikut mendonorkan darah ke Palang Merah Indonesia yang memang datang ke Kantor untuk ‘memungut’ darah pegawai yang ingin ‘menyalurkan’ darahnya ke orang-orang yang membutuhkan. Udah lama saya ngga ikut kegiatan ini. Di kartu donor darah saya tercatat kalo saya terakhir mendonorkan darah melalui Unit Mobil PMI tanggal 30 Juni 2009. Tapi saya rasa dan inget betul, di antara tanggal tersebut dan sekarang, saya pernah donor darah sekali, tapi tidak tercatat di Kartu Donor Darah, karena waktu itu lupa membawa kartunya.
Waktu pertama kalinya saya donor darah emang rada-rada takut, disamping takut jarum suntiknya karena dari ukuran jarumnya lebih gede dari jarum suntik obat, campur mitos yang ada tentang donor darah sepertinya kurang enak didenger. Ada yang bilang donor darah itu membikin kita tambah gemuk, membuat badan lemes, dan lain sebagainya.
Jangan lempar tikus ke jalanan
Sering kita melihat bangkai tikus di jalan-jalan deket rumah kita maupun di jalan-jalan besar. Kadang ada yang udah kering seperti ikan asin, ada yang masih segar alias masih utuh, dan yang paling menjijikan tentu yang baru saja terlindas motor atau mobil… daging berceceran kemana-mana disertai darah dan bau yang tentu tidak sedap. Iya kalo hari ini panas, mungkin sore udah kering tuh bangkai, tapi kalo ujan… duh pastinya nambah bau dan sangat mungkin menjadi media penyebaran penyakit.
Sebenernya saya rada penasaran, apakah bangkai-bangkai tikus itu mati dengan sendirinya, maksudnya, si tikus stress karena jadi tikus trus bunuh diri di jalanan, atau si tikus udah tua bangka, pas melintas di jalan, eh… tau-taunya mati… atau pas si tikus itu mau mengunjungi saudaranya yang diseberang jalan, eh … sialnya dia tertabrak mobil ato motor yang kebetulan liwat, yang pastinya juga tidak sengaja untuk menabrakkan mobil atau motornya ke tikus tersebut. Hipotesis ini mungkin ada benarnya kalo bangkai tikus di jalan itu cuman satu.
Puasa Sunah 6 Hari di Bulan Syawal
Oleh Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts w
Diriwayatkan dari Abu Ayyub radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah puasa seumur hidup.”
(Hadits Riwayat Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi)
Puasa 6 hari di bulan Syawal hukumnya adalah sunnah. Imam Syafi’i, Ahmad dan banyak ulama terkemuka mengikutinya. Hal-hal yang berkaitan dengannya adalah:
1. Tidak Harus Dilaksanakan Secara Berurutan.
Hari-hari ini (berpuasa syawal-) tidak harus dilakukan langsung setelah ramadhan. Boleh melakukannya satu hari atau lebih setelah ‘Ied, dan mereka boleh menjalankannya secara berurutan atau terpisah selama bulan Syawal, apapun yang lebih mudah bagi seseorang. … dan ini (hukumnya-) tidaklah wajib, melainkan sunnah.
(Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa’imah lil Buhuuts wal Ifta’)




