Pavarotto

Just Pavarotto, That's All !

Kisah Beberapa Bayi yang Bisa Bicara

bayiSemalam, pengajian rutin Kitab Kuning di Masjid Ar Rahmah, diselingi dengan pembacaan hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim yang menerangkan salah satu mukjizat Allah SWT yang diberikan kepada Nabi Isa a.s. yaitu dapat berbicara sewaktu masih bayi.

Abu Hurairah r.a. berkata : Bersabda Nabi s.a.w.: “Tidak ada yang dapat bicara ketika bayi kecuali tiga orang, yaitu Isa bin Maryam, kedua, anak yang membebaskan Djuraidj …..”

Nabi Isa as. bisa bicara ketika masih dalam gendongan ibunya, Di dalam Al-Quran Al-Karim, lafadz yang diucapkan oleh nabi Isa as adalah sebuah keterangan tentang siapa diri beliau dan kedudukannya. Beliau as. berkata:

“Sesungguhnya Aku adalah hamba Allah, Dia telah memberi kepadaku Al-Kitab dan menjadikanku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada. Dan Dia memerintahkan kepadaku shalat dan zakat selama aku hidup. Dan berbakti kepada ibuku. Dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

Selain ayat ini juga ada ayat lain yang juga memberi keterangan tentang bahw nabi Isa as berkata-kata sewaktu masih bayi.

“Ketika Malaikat berkata: Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat daripada-Nya, namanya Al-Masih ‘Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan,dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang saleh”.

….. Djuraidj seorang ahli ibadat yang membuat suatu sauma’ah (biara) untuk ibadatnya, maka pada suatu hari ibunya datang datang memanggil padanya sedangkan ia sedang beribadah, maka ia berkata:

“Ya Rabbi, itulah ibuku, dan kini saya sedang beribadah”,

maka ia melanjutkan ibadahnya sehingga pulanglah ibunya, kemudian esok harinya ibunya datang kembali di waktu Djuraidj sedang beribadah, sehingga tidak menyambut panggilan ibunya, kemudian datang ketiga kalinya, sedangkan Djuraidj sedang beribadah, maka ia (ibunya) memanggil:

“Hai Djuraidj!”

tetapi Djuraidj tidak dapat menyambut ibunya, hanya berdoa:

“Ya Rabbi, itulah ibuku, dan ini ibadahku”.

Sehingga marahlah ibu Djuraidj dan berdo’a:

“Ya Allah, jangan dimatikan ia sehingga melihat wajah perempuan lacur”.

Djuraidj memang terkenal benar sebagai seorang ‘Abid (ahli ibadah) diantara bani Israil, sehingga terjadi seorang wanita pelacur yang terkenal kecantikannya berkata:

“Saya dapat menggugurkan ibadah Djuraidj”.

Maka pelacur itu berusaha merayu Djuraidj dengan segala daya penariknya, tetapi ternyata bahwa Djuraidj tidak dapat tergoda olehnya, sehingga jengkel si pelacur itu, maka ia (pelacur) berzina dengan seorang gembala yang tidak jauh dari biara Djuraidj, seihingga hamil. Dan ketika lahir kandungannya, ia (pelacur) berkata:

“Ini anak dari hasilnya Djuraidj”.

Maka ketika orang-orang mendengar itu langsung pergi ke biara Djuraidj, dan memaksa padanya turun dari biaranya, kemudian dihancurkan biara itu oleh orang-orang yang datang, kemudian mereka pukul Djuraidj. Maka bertanya Djuraidj:

“Mengapakah kamu berbuat demikian? Apakah sebab dari semua ini?”

Jawab mereka: “Kamu telah berzina dengan pelacur ini, sehingga beranak daripadamu”.

Berkata Djuraidj: “Dimanakah bayinya?”

Maka dibawa bayi itu kepadanya, kemudian Djuraidj berkata:

“Lepaskan saya untuk beribadah dahulu”.

Dan sesudah selesai beribadah, Djuraidj mendekat pada bayi itu dan menekan menekan dengan jarinya sambil berkata:

“Siapa ayahmu?”

Jawab bayi: “Fulan, si gembala itu”.

Dan ketika orang-orang mendengar keterangan bayi itu, mereka mencium dan memeluk Djuraidj sambil berkata:

“Sukakah kami membangun biara itu dari emas?”

Jawab Djuraidj: “Tidak, kembalikan saja sebagaimana sediakala”.

Maka segeralah mereka bersama membangun kembali biara Djuraidj yang telah mereka hancurkan.

Dan yang ketiga:

Ketika ada seorang bayi sedang menetek pada ibunya, mendadak ada seorang berkendaraan yang mewah sekali, maka berkata si ibu:

“Ya Allah SWT, jadikanlah putraku ini seperti orang itu”.

Mendadak bayi itu melepaskan teteknya dan melihat pada orang yang berkendaraan itu sambil berkata:

“Ya Allah SWT jangan Kau jadikan aku seperti orang itu”.

Lalu melanjutkan menyusu lagi. Kemudian tidak lama kemudian ada budak dipukuli oleh majikannya sambil dikatakan:

“Kau pencuri, kau pelacur”. Sedang budak itu hanya membaca “Hasbiyallahu wani’mal wakiil”. Maka ibunya berkata:

“Ya Allah SWT jangan jadikan anakku ini seperti orang itu”.

Maka bayi itu segera menghentikan meneteknya dan melihat pada budak yang dianiaya itu sambil berdoa:

“Ya Allah SWT jadikanlah saya seperti orang itu”.

Kemudian terjadi tanya jawab antara ibu dengan bayinya. Berkata ibu:

“Tadi ada orang mewah, saya berdoa ‘Ya Allah SWT jadikanlah putraku seperti dia’ mendadak kau berkata ‘Ya Allah SWT jangan Kau jadikan aku seperti dia’. Kemudian ada budak dipukuli karena berzina, mencuri dan saya berdoa ‘Ya Allah SWT jangan jadikan putraku seperti dia’ mendadak kau berdoa ‘Ya Allah SWT jadikanlah saya seperti dia’ “.

Jawabnya: “Orang laki-laki yang mewah tadi adalah orang yang sangat kejam, sedang budak itu dituduh berzina padahal tidak berzina, dituduh mencuri padahal tidak mencuri, maka saya berdoa: Ya Allah SWT jadikanlah saya seperti dia”. (Bukhary, Muslim)

Dalam beberapa kitab lain diceritakan juga mengenai keajaiban bayi yang bisa bicara. Diantaranya adalah bayi yang ibunya akan ikut dibakar dalam kisah ashhabul uhkdud. Bayi itu berkata dalam gendongan ibunya “Wahai ibuda, bersabarlah, sesungguhnya kita berada dalam kebenaran”. Kisah ini bisa kita dapati di dalam Shahih Muslim.

Sedangkan di dalam hadits riwayat Al-Baihaqi, disebutkan juga tentang kisah Siti Masyithah yang bekerja sebagai tukang sisir istri Fir’aun. Ketika sisirnya jatuh, spontan dia berujar, “Bismillah”. Ketahuanlah bahwa dirinya seorang muslim, maka Fir’uan memerintahkannya agar dimasukkan ke dalam bejana yang berisi air panas. Sesaat sebelum diceburkan, bayinya yang masih dalam gendongan itu atas izin Allah bisa bicara, yang intinya memberi semangat kepada ibunya untuk tabah menghadapi cobaan.

Di dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa orang yang menjadi saksi yang membela kasus Nabi Yusuf a.s. ketika dituduh telah berlaku serong dengan Siti Zulaikha, istri Al-Aziz. Konon saksi ini pun dibunuh dan sebelumnya telah terjadi keajaiban, yaitu bayi bisa bicara.

Referensi :

  1. Tafsir Al-Qurthubi tentang tafsir surat Ali Imran
  2. Sahih Muslim
  3. Kitab Riyadhushshalihin
  4. Kitab Hayatul Hayawan
About these ads

21 October 2009 - Posted by | Inspiratif |

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: