Contoh Keteladanan Umar Bin Abdul Aziz RA
Negeri ini sangat memerlukan pemimpin yang bukan saja kapabel, tapi juga kredibel. Sebab, –sekarang dan ke depan- kita berada di sebuah dunia yang makin sarat tantangan. Hal yang demikian, jelas tak memadai jika negeri ini tak dikelola oleh rezim kredibel, yang didukung penuh oleh rakyat.
Kredibilitas terkait dengan –antara lain- keteladanan. Kredibilitas bergantung kepada satunya kata dan perbuatan. Sayang, justru di aspek ini, performa rata-rata pemimpin kita menyedihkan.
Negeri ini, miskin pemimpin berkategori teladan. Perhatikanlah, misalnya: Cukup sering pemimpin/pejabat meminta rakyat untuk berhemat, dan hal yang sama diinstruksikan pula kepada pejabat (di level yang lebih bawah). Misal, pernah ada seruan untuk menggunakan fasilitas negara secara proporsional. Tapi, ternyata, seruan ini tak disertai contoh yang memadai dari sang pemimpin/si penyeru.
Gemmar Mengaji
Ya benar, anda tidak salah mengeja atau membaca, emang begitu tulisannya. Gemmar Mengaji emang sebuah singkatan dari Gerakan Masyarakat Maghrib Mengaji. Gerakan ini diluncurkan oleh Menteri Agama Suryadharma Ali, bertempat di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (30/3/2011). Dalam pembukaan gerakan tersebut, Menag mengatakan bahwa Gemmar Mengaji merupakan gerakan moral untuk mengembalikan budaya mengaji. Mengaji sejak dahulu telah menjadi budaya masyarakat Indonesia. Namun akhir-akhir ini mengaji sudah mulai ditinggalkan. Masjid-masjid kosong, tak ada lagi aktifitas pengajian. “ Kita sangat sulit mendapati anak-anak, remaja, bahkan orang tuas yang mengaji di Masjid-masjid atau mushalla. Umat kita lebih asyik di depan televisi daripada mengaji”, ungkapnya.
Kondisi ini menurut Menag, berkontribusi pada melemahnya ikatan keumatan, sehingga umat Islam mudah dimasuki berbagai paham menyimpang. Hal ini jelas memudahkan masuknya berbagai paham yang sesat. Dengan semakin jauhnya umat dari mengaji, akan sangat rentan untuk dimasuki paham-paham sesat yang datang dari orang-orang yang tak bertanggung jawab.
Donor Darah? Yuk Mari ….
Barusan ikut mendonorkan darah ke Palang Merah Indonesia yang memang datang ke Kantor untuk ‘memungut’ darah pegawai yang ingin ‘menyalurkan’ darahnya ke orang-orang yang membutuhkan. Udah lama saya ngga ikut kegiatan ini. Di kartu donor darah saya tercatat kalo saya terakhir mendonorkan darah melalui Unit Mobil PMI tanggal 30 Juni 2009. Tapi saya rasa dan inget betul, di antara tanggal tersebut dan sekarang, saya pernah donor darah sekali, tapi tidak tercatat di Kartu Donor Darah, karena waktu itu lupa membawa kartunya.
Waktu pertama kalinya saya donor darah emang rada-rada takut, disamping takut jarum suntiknya karena dari ukuran jarumnya lebih gede dari jarum suntik obat, campur mitos yang ada tentang donor darah sepertinya kurang enak didenger. Ada yang bilang donor darah itu membikin kita tambah gemuk, membuat badan lemes, dan lain sebagainya.




