Nasrudin
Memakai Pakaian Kabung
Nasrudin sedang berjalan di sepanjang jalan dengan mengenakan jubah berwarna biru tua ketika seseorang bertanya: “Mengapa engkau berpakaian seperti ini, Nasrudin? Apa ada yang meninggal?”
“Ya,” kata sang Mullah, “Kan bisa saja terjadi kematian, tanpa kita diberi tahu.”
Nasrudin Ditangkap Waktu Perang
Ketika perang Salib, Nasrudin tertangkap dan dikenai kerja paksa di sebuah parit dekat benteng Aleppo. Kerja paksa itu, begitu melelahkan sehingga sang Mullah sering kali berkeluh kesah.
Nasrudin
Makan Sop Bebek
Nasrudin memandang beberapa ekor bebek yang kelihatannya akan lezat bila dimasak. Mereka sedang bersenang-senang di sebuah kolam. Ketika Nasrudin mencoba menangkapnya, bebek-bebek itu terbang.
Setelah itu ia celupkan beberapa patong roti ke dalam air dan kemudian melahapnya. Beberapa orang yang lewat bertanya apa yang ia lakukan itu.
“Aku sedang makan sop bebek,” jawab Nasrudin kalem.
Menolong Bulan
Ketika sedang berjalan-jalan, Nasrudin melewati sebuah sumur yang membuatnya ingin melihat ke dalamnya. Ketika itu hari mulai malam. Waktu Nasrudin menatap air dalam sumur itu, ia melihat bulan di sana.
Nasrudin
Perlakuan Sama Tapi Hasil Berbeda
“Segala sesuatu yang ada harus dibagi sama rata,” ujar seorang filsuf di hadapan sekelompok orang di warung kopi.
“Aku tak yakin, itu akan terjadi,” ujar seseorang yang selalu ragu.
“Tapi, pernahkah engkau memberi kesempatan?” menimpali sang filsuf.
“Aku pernah!” teriak Nasrudin. “Aku beri istriku dan keledaiku perlakuan yang sama. Mereka memperoleh apa yang betul-betul mereka inginkan.”
“Bagus sekali!” kata sang filsuf. “Sekarang katakan bagaimana hasilnya.”
“Hasilnya adalah seekor keledai yang baik, dan istri yang buruk.”
Anak Kecil yang Kurang Ajar
Nasrudin biasa duduk-duduk di teras sebuah warung kopi. Suatu hari, seorang anak kecil laki-laki berlari di hadapannya sambil memukul kepala Nasrudin sehingga sorbannya melayang. Tapi sang Mullah tidak bereaksi apa-apa. Hal yang sama terjadi terus selama beberapa hari. Yang selalu dilakukan sang Mullah adalah mengambil sorbannya yang terjatuh dan mengenakannya kembali.
Read more »
Kebal Api Karena Jatuh Cinta
Seorang yang terkenal arif pernah bercerita, bahwa ia pernah menemui seorang pandai besi yang sangat ajaib. Ia mengerjakan pekerjaannya tanpa pernah menggunakan alat anti api atau lain-lainnya. Hanya dengan tangan kosong, ia mampu memegang besi yang sedang membara. Ketika si arif menanyakan penyebab kekebalannya, pandai besi tadi menceritakan peristiwa yang pernah ia alami. Beberapa tahun yang lalu, aku mempunyai tetangga seorang wanita yang sangat cantik. Aku jatuh cinta kepadanya, tetapi ia hanya biasa-biasa saja dan tak membalas cintaku.
Setelah lama menanti, akhirnya kesempatan datang juga. Pada musim paceklik, ia datang ke rumahku dan berkata, “Berilah aku makan karena Allah”. “Aku tidak akan memberimu makan, kecuali kalau kau menerima cintaku”.” Astaghfirullah, tidak ada jalan bagiku untuk melakukan kemaksiatan” jawabnya seraya ketakutan. Karena ia menolak permintaanku, aku tetap tidak memberinya makan, dan kubiarkan saja ia berlalu pulang.
Nasrudin
Kebijaksanaan dari Toko Sepatu
Nasrudin diundang menghadiri sebuah pesta perkawinan. Sebelumnya, di rumah orang yang mengundang itu, ia pernah kehilangan sendal. Karenanya sekarang ia tidak lagi meninggalkan sepatunya di dekat pintu masuk, tapi menyimpannya di balik jubahnya.
“Buku apa itu di dalam sakumu?” tanya tuan rumah kepada Nasrudin.
“Ha, mungkin dia sedaang mencari-cari sepatuku,” pikir Nasrudin, “untung aku dikenal sebagai kutu buku.”
Maka dengan sekeras-kerasnya ia berkata: “Tonjolan yang engkau lihat ini adalah Kebijaksanaan.”
“Menarik sekali! Dari toko buku mana engkau dapatkan itu?”
“Yang jelas aku mendapatkannya dari toko sepatu!”




