Pavarotto

Just Pavarotto, That's All !

Lebaran di Negeri Orang

010_Idul_fitri-cardYa…. mungkin ungkapan itu sering kita dengar dari para perantau yang mencari sesuap nasi (sekeranjang berlian…) di negeri orang. Dan akhirnya, bukan hanya sekedar unggakapn lagi, tahun ini saya benar-benar mengalaminya. Inilah tahun pertama kali saya (klo isteri saya, yang ke-2 kalinya) berlebaran di negeri orang, ya… negeri orang itu adalah negeri yang selalu dituju oleh para kaum urban, ya.. benar, Jakarta ! Apa pasal? Alhamdulillah, setelah sekian lama nya (6 tahun) kami berumah tanggal, akhirnya, kami diberi kepercayaan oleh Allah untuk menerima amanahnya berupa keturunan, yang saat ini masih berumur 5 bulan dikandungan. Nah, karena umur kehamilannya masih relatif muda dan kami juga tentungan sangat berhati-hati, maka keputusan berlebaran di negeri orang lah yang diambil.

Tentu beda tempat beda adat, lain lubuk lain ikannya, lain ladang lain belalangnya pula. Mungkin kalo ritual sholat Ied tidak ada bedanya, tapi setelahnya, nah saya hanya menunggu-nunggu saja. Setelah selesai sholat Ied, para jemaah laki-laki saling bersalaman trus pulang (kalo di tanah kelahiran, habis salam-salaman diteruskan dengan syukuran dan makan bersama).

Sepulang dari masjid, saya bersama bapak mertua ( oh ya, saya di jakarta tinggal di Pondok Mertua Indah) sepanjang jalan setiap ketemu orang laki salaman, ketemu ibu2 yang kenal tegur sapa dan isyarat minta maaf (tanpa berjabat tangan).  Setelah sampe depan rumah, kita hanya berdiri menunggu orang yang lewat aja, pasang senyum dan ulurkan tangan, nyalamin orang yang lewat.

Setelah dirasa sudah tidak ada lagi yang lewat, kita masuk ke dalam rumah, dan saling memaafkan antara ibu bapak dan anak serta mantunya, sedikit melo lah, tapi tulus ko’. Melihat di meja sudah tersedia hidangan kas lebaran, ketupat, sayur tempe, rendang, sambel goreng kentang dan pasti, opor ayam, membuat perutku memanggil-manggil untuk di isi. Ee… baru mau motong tuh ketupat, dari luar terdengar salam “Assalaamu alaikum, Pa Haji…” . Wah… serombongan warga datang untuk silaturahim, banyak dan ga’ putus-putus.

Wuh, cape juga… setelah dirasa semua warga dah dateng, baru deh kita lanjutkan prosesi ritual motong kupat tadi. Ambil satu kupat, potong separo cukup, sayur tempe, sambel goreng kentang dan opor ayam pun sudah naik kepiring untuk di-emplok. Baru mau disuap… “Assalaamu alaikum, Pa Haji…”.

“Ya Salam…….”

20 September 2009 - Posted by | Catatan

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: