Pavarotto

Just Pavarotto, That's All !

Mudik

peta-mudik-jawa-baliDengan selembar tiket kereta api Cirebon Eksperes ditangan, saya dengan sangat berat hati mohon ijin kepada ibu dan bapak mertua serta isteri tercinta untuk pulang kampung menjumpai orang tercinta lainnya, bapak ibu, sanak saodara di kampong. Setelah cium tangan orang tua, cipika-cipiki sama isteri dan ciuman isteri di tangan ku, restu orang tua sudah tentu aku kantongi dan keikhlasan isteri pun sudah aku genggam, manambah damai hati ini meninggalkan mereka di Jakarta untuk hanya beberapa hari, tepatnya tiga malam dua hari karena tiket Cirebon Ekspres Senin pagi jam 6 tanggal 28 September 2009 sudah aku pastikan.

Ucapan salam pun menjadi upacara terakhir perpisahan kami, karena tukang ojek, Bang Maing, sepertinya sudah tidak sabar mengangkut ku ke Stasiun Jatinegara demi selembar uang 20 ribuan, ya, segitulah ongkos naik ojek langganan dari rumah ke Stasiun Jatinegara. Dengan sigap sedikit ngebut, Bang Maing menerobos jalanan yang relatif sepi, mungkin karena jam sudah menunjukkan pukul 10 siang dan hari Jumat pula plus baru 2 hari para pegawai, terutama instansi pemerintah, memulai bekerja, yang mungkin juga tidak semuanya masuk dan pegawai swasta serta anak sekolah juga masih libur.

Tidak sampai 30 menit, kami sudah nyampe Stasiun Jatinegara, segera aku rogoh kocek kanan, yang memang sudah disiapkan, 2 lembar uang, 20 ribuan dan 5 ribuan, “Neh Bang” sambil aku sodorin tuh uang, yang langsung disambar Bang Maing, tanpa melihat lagi sebera duit yang aku kasih, karena memang sudah biasa, kalau jaraknya cukup jauh dan ‘pelayanan’ memuaskan, pasti ongkosnya aku tambah, dan rupanya Bang Maing sudah paham dengan ‘style’ saya itu. “Ati-ati Bang pulang nye” sekedar pesan buat Bang Maing, “makasih Mas, ati-ati juga di jalan” balas Bang Maing sambil ngeluyur pulang.

Tengak-tengok sebentar, suasana Stasiun Jatinegara sedikit ramai, karena mungkin sudah jadwalnya arus balik dari jawa. Dengan menunjukkan tiket ke petugas pintu masuk stasiun, aku masuk Stasiun Jatinegara dengan sedikit mengantri, dan aku segera menuju ke peron 1, karena memang kereta Cirebon Ekspres akan dating di Stasiun Jatinegara di peron 1. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, yang berarti sebentar lagi kereta yang ditunggu pasti dating, karena jadwal kedatangan kereta Cirebon Ekspres di Stasiun Jatinegara adalah pukul 11 lewat 12 menit. Tapi, tiba-tiba terdengar suara lantang petugas Stasiun melalui pengeras suara yang sudah pasti di dahului oleh suara bel kas stasiun “Perhatian, perhatian, peron 2 dari arah timur akan datang Kereta Cirebon Ekspres” dan ditutup kembali dengan suara bel yang sama.

“Lah… inikan kereta Cirebon Ekspress yang akan aku naiki nanti” begitu gumaman hatiku sedikit mengutuk keterlambatan jadwal kereta. Dengan kondisi seperti ini, pastilah jadwal kedatangan kereta jadi mundur otomatis, kereta berhenti terakhir di Stasiun Gambir, belum proses Loko nya berbalik, pembersihan kereta dari sampah penumpang, sampai menunggu jadwal kereta lainnya yang sudah harus jalan duluan karena memang sudah jadwalnya jalan.

Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB, kereta belum datang juga. Aku coba untuk memenangkan diri untuk tidak terus mengutuk ‘kebiasaan’ kereta datang terlambat, setidaknya itulah kata Bang Iwan Fals “kereta datang terlambat sudah biasa”. Aku coba untuk sedikit basa-basi ngobrol dengan calon penumpang lain yang sepertinya sedang menunggu kereta yang sama, sebuah keluarga dengan satu anak kecil, “mau kemana Pa?” aku memulai pembicaraan, “Cirebon Mas” jawaban singkat dari sang bapak, “Naik di gerbong berapa Pa?’ aku melanjutkan, “dimana aja mas asal bisa naik” jawab sang bapak lagi.  Dengan jawaban itu aku sangat paham maksudnya, bapak dan anak isteri nya ini naik kereta dengan tanpa tiket alias ‘nembak’ di atas kereta, dengan memberikan sejumlah uang ke kondektur. Ya itu lah sebagian fenomena arus mudik, bahkan sangat diyakini bukan saat ini aja kejadian itu terjadi, tapi mungkin saban hari juga ada.

Tanpa meneruskan percakapan tadi, aku mulai berpikir, apakah ‘nembak’ di atas itu sudah menjadi budaya apa memang karena si bapak tadi tidak mampu untuk membayar tiket untuk keluarganya?. Sebelum muncul jawaban, tiba-tiba terdengar suara bel kas stasiun disusul suara petugas “Perhatian-perhatian, kereta Cirebon Ekspress Jurusan Tegal masuk di Jalur 1, bagi penumpang harap menuju jalur 1”. Alhamdulillah… akhirnya datang juga tuh kereta, jam besar di stasiun Jatinegara tepat menunjukkan pukul 11 lewat 58 menit berbarengan dengan terdengarnya suara adzan pertanda waktu sholat Jumat sudah masuk.

Begitu kereta berhenti, aku langsung masuk gerbong satu menuju kursi nomor 12D, yang berarti aku duduk di dekat jendela, yang memang, posisi ini adalah posisi yang paling aku suka kalau naik kereta, karena bisa liat jalanan, sawah, rumah penduduk sepanjang perjalanan. Sampai kereta berjalan kembali, ko’ kursi sebelah, 12C belum terisi, dan memang banyak kursi di gerbong 1 yang masih kosong, mungkin akan terisi di stasiun selanjutnya (Bekasi) kalao berhenti. Dan ternyata di Satsiun Bekasi, kereta tidak berhenti, alias teman seperjalananku kali in iadalah bangku kosong. Sedangkan bapak dan anak serta isteri yang tadi aku ajak ngobrol dengan tenangnya duduk di bangku agak dekat pintu atau dekat kamar kecil di gerbong yang sama dengan ku.

Singkat cerita, pukul 16 lewat 50 menit, kereta tiba di jutuan akhir, Tegal Kota Bahari.

29 September 2009 - Posted by | Catatan |

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: