Pavarotto

Just Pavarotto, That's All !

Rusunami, Salah Sasaran

rusunamiSuara deru mesin dan debu yang beterbangan sungguh sangat mengganggu kelangsungan kehidupan masyarakat sekitar lokasi pembangunan Rusunami. Belum lagi akibat getaran yang ditimbulkan dalam mengebor tanah untuk memasang pondasi, yang dirasakan seperti gempa bumi skala kecil, yang bisa meretakkan dinding rumah dan melorotkan genteng. Janji ganti rugu bagi masyarakay di sekitar proyek juga hanya tinggal janji tanpa ada kejelasan pasti pembayarannya dan jumlahnya tentu !

Sekedar mengingatkan kembali, rusunami adalah hunian bertingkat yang dibangun dalam satu lingkungan tempat hunian, memiliki WC dan dapur baik menyatu dengan unit maupun bersifat publik dengan diperoleh melalui kredit kepemilikan rumah, baik subsidi maupun tanpa subsidi.

Rusunami memiliki harga maksimal Rp 144 juta dengan luas unit minimal 21 meter persegi dan maksimal 36 meter persegi. Orang yang tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan subsidi, boleh membeli rusunami dengan harga non-subsidi (membayar PPN 10 persen).

Seseorang yang tertarik untuk memiliki rusunami dengan subsidi (tidak dikenakan PPN 10 persen) harus memenuhi persyaratan penghasilan maksimal 4,5 juta per bulan dan merupakan rumah pertama dengan dibuktikan oleh surat pengantar dari kelurahan. Memiliki nomor pokok wajib pajak (MPWP), perorangan, dibayar secara kredit, ditempati oleh pembeli serta tidak boleh dijual selama 5 tahun pertama (sewa boleh).

Tapi sejak Program rumah susun sederhana milik (rusunami)  digulirkan pemerintah dua tahun lalu (sejak tahun 2007) di Pulo Gebang terbukti salah sasaran. Jelas tidak tepat sasaran ! Buktinya, meskipun jumlah rumah rusunami yang diperuntukkan bagi kalangan menengah ke bawah perkotaan yang berpenghasilan maksimal Rp4,5 juta/bulan itu, telah dibangun para pengembang sebanyak 40.000 unit,namun ternyata sebagian besar (60%) unit-unit rusunami itu,justru kembali dibeli masyarakat kalangan berpenghasilan menengah-atas. Unit-unit rusunami yang mereka beli itu pun belum tentu akan dihuni dan berdasarkan Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI), sebagian besar penjualan rusunami tidak menggunakan KPR bank.

Pemerintah mengklaim sampai dengan Mei 2009 sudah berhasil membangun 40.000 unit rusunami, sementara yang menggunakan fasilitas KPR hanya 2.000 unit (1.600 unit di antaranya dari BTN). Dan sebagian besar konsumen menggunakan pembayaran secara tunai keras dan tunai bertahap bahkan ada yang memborong unit pada satu lantai yang membuktikan pembeli merupakan investor (untuk dijual kembali). Ada dugaan pembeli rusunami merupakan investor yang biasa melaksanakan transaksi properti di atas Rp 500 juta, mereka jeli melihat keuntungan (capital gain) dari lokasi yang strategis.

Semua itu mungkin sekali disebabkan oleh  konsep rusunami yang selama ini tidak jelas. Banyak yang menilai pemerintah telah gagal melakukan sosialisasi rusunami dan juga gagal mencapai target. Program rusunami digagas Wakil Presiden Jusuf Kalla tahun 2007 sebagai solusi pemenuhan perumahan rakyat, terutama masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Saat itu ditargetkan akan dibangun 25.000 unit rusunami sampai tahun 2009. Juga adanya kurang koordinasi antar instansi pemerintah, seperti contoh ada rusunami di Kalibata, Jakarta Selatan, yang dibangun sebelum mengantongi izin mendirikan bangunan.

Kalau saja tujuan pembangunan rusunami tepat sasaran, mungkin problema kependudukan di Jakarta akan sedikit teratasi, rumah-rumah kumuh tak layak huni bisa dikurangi, rumah-rumah bedeng pinggir rel kereta juga bisa ditiadakan atau mungkin juga berimbas akan berkurangnya angka kriminalitas seperti pencurian listrik oleh penduduk, karena memang rumah-rumah yang kumuh dan pinggir rel kereta itu bisa dikatakan rata-rata mencuri listrik alias “nyantol”.

Gimana nih pemerintah? Sudah tepatkah pembangunan rusunami itu? Apakah orang “menengah bawah” terutama miskin, berhak mendapatkan perumahan yang layak?

14 October 2009 - Posted by | Opini dan Harapan |

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: