Pavarotto

Just Pavarotto, That's All !

Sang Pemimpin yang Kuat dan Bijaksana

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat nya, yang telah memberikan amanah kepada kami seorang putra yang sudah lama kami tunggu-tunggu kehadirannya di rumah kami.

Sudah 6 tahun kami menjalani rumah tangga tanpa ada tangis bayi di rumah. Dan untuk mewujudkan itu, kami pun sudah berusaha, yang menurut kami sudah maksimal. Dari yang masuk akal sampai yang tidak masuk akal sekalipun sudah kami lakukan. Pokok nya apa kata orang, kita jalanin.

Dari dokter ini, rumah sakit ini, klinik ini, dukun bayi ini, tukang urut itu, mbah anu … makan ini, minum itu … obat ini, jamu itu … bahkan sampai lintas propinsi pun kami jalani. Pantang lelah kami berusaha dan berdoa.  Sudah bebal rasanya telinga kami mendengar saran dari orang-orang yang menyarankan agar kami tetap bersabar dan suatu saat kami pun rasanya sudah kehilangan kesabaran … “Kamu aja yang sabar !!”.

Dan ‘hadiah’ atas kesabaran kami, Allah SWT memberikan jalan kepada kami lewat saudara yang juga seorang dokter di RSCM, yang bercerita bahwa temennya, juga sorang dokter, juga mempunyai kasus yang sama dengan kami, terus menjalani terapi di Klinik Yasmin RSCM dan Alhamdulillah berhasil mendapatkan keturunan.

Semangat kamipun kembali menggelora, dan tanpa pikir panjang lagi, kami pun langsung konsultasi di Klinik Yasmin, dan seakan kami pun ditunjukkan oleh Allah SWT ke dokter yang menurut kami ‘pas’ buat kami, terima kasih dr Budi Wiweko, Spog.

Dari hasil laboratorium sperma saya, sepertinya opsi untuk program inseminasi tidak cocok. Maka diambil lah keputusan bahwa kami akan menjalani program bayi tabung. Mental dan biaya, tentu, kami persiapkan karena dari penjelasan dokter, biaya program bayi tabung tidak lah sedikit dan tingkat keberhasilan program bayi tabung pun hanya sekitar 33% kalau tidak salah.

Maka, dimulailah program bayi tabung. Proses demi proses kami jalani dengan keyakinan akan berhasil.  Dari mulai proses pematangan telur, pengambilan telur, pembuahan sel telur oleh sperma dan ‘ditanam’ kembali ke dalam rahim isteri. Dengan hati-hati sekali kami menjaga embrio yang sudah ‘ditanam’. Isteri tidak boleh capek, emosi dan harus banyak istirahat.Untuk itu, isteri pun rela meninggalkan pekerjaannya di salah satu perusahaan swasta di Jakarta.

Tibalah saatnya kontrol kondisi embrio yang sudah ‘ditanam’ tadi, kira-kira 2 minggu setelah proses ‘penanaman’. Isteri diambil darahnya untuk dites, dan … Alhamdulillah, puji syukur pada Allah SWT, dari selembar kertas hasil test darah, isteri dinyatakan hamil. Kemudian setelah diperiksa USG… Alhamdulillah, puji syukur kembali kami panjatkan atas Rahmat Allah SWT, dua embrio yang ‘ditanam’  semua nya ‘berbuah’. Sudah terbayang di benak kami ….  anak kembar.  Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, ternyata satu embrio tidak berkembang dengan baik.  Dan kini, tinggal satu embrio yang harus kami rawat dengan baik. Embrio laki-laki.

Sampailah waktu nya melihat si kecil hadir ditengah-tengah kita. Pilihan pertama yang ditentukan adalah, dengan cara apa isteri mau melahirkan? normal atau secsio? Dengan pertimbangan kondisi tubuh isteri yang kurang kuat, diputuskan lah dengan cara secsio. Pilihan yang kedua, yang harus ditentukan adalah di rumah sakit mana akan melahirkan? dengan pertimbangan kemudahan dan biaya, kami pun putuskan bahwa secsio akan dilakukan di RSCM.

Rencana melahirkan sudah kami tentukan, kalau tidak tanggal 9 ya 10 Februari 2010, tapi kemudian kami putuskan tanggal 10 Februari 2010. Tapi, manusia hanya berencana, ternyata pas hari Minggu, tanggal 7 Februari 2010 isteri saya sudah merasa sedikit sakit disertai keluarnya sedikit cairan kecoklat-coklatan pas buang air kecil. Langsung hari Senin nya, 8 Februari 2010, kami berkonsultasi dengan dr Budi Wiweko, Spog., katanya ini sudah pembukaan satu. Maka diputuskanlah hari itu juga dilakukan operasi.

Pukul 17.00 isteri sudah masuk ruang operasi, dan pukul 17.30, kabar gembira saya terima dari dokter, anak kami sadah hadir di dunia, bayi dan ibunya sehat. Bayi laki-laki dengan berat 3.100 gram dan panjang 50cm. Begitu sang jabang bayi dibawa ke ruang bayi, langsung saya kumandangkan kalimat adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri diiringi doa, semoga jadi anak yang sholeh, jadi pemimpin yang kuat dan bijaksana, Amin.

Atas dasar keinginan agar anak menjadi seorang pemimpin yang kuat dan bijaksana, maka kami memutuskan memberi nama anak kami “MAULA BAGAS ALVARO”. Maula, dari bahasa Arab, artinya pemimpin, Bagas, dari bahasa Jawa, artinya Sehat/Kuat dan Alvaro, dari bahasa Spanyol, artinya Bijaksana. Cepatlah besar Bagas, doa kami di nadimu.

Sekali lagi, kami panjatkan puji syukur kepada Allah SWT, terima kasih juga kami sampaikan kepada dr. Budi Wiweko, Spog., tim medis RSCM, MAKMAL UI, Klinik Yasmin. Dan kami juga tak lupa memohon maaf kepada semua pihak apabila selama menjalankan program bayi tabung, kami berlaku tidak sopan atau mungkin bertindak yang tidak menyenangkan, sekali lagi mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya.

18 February 2010 - Posted by | Catatan, Harapan |

1 Comment »

  1. […] Jadilah nama anak kami, Maula Bagas Alvaro, Sang Pemimpin yang Kuat dan Bijaksana. […]

    Pingback by Kriterian Pemilihan Nama Anak « Pavarotto | 21 February 2010 | Reply


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: