Pavarotto

Just Pavarotto, That's All !

Jangan lempar tikus ke jalanan

Sering kita melihat bangkai tikus di jalan-jalan deket rumah kita maupun di jalan-jalan besar. Kadang ada yang udah kering seperti ikan asin, ada yang masih segar alias masih utuh, dan yang paling menjijikan tentu yang baru saja terlindas motor atau mobil… daging berceceran kemana-mana disertai darah dan bau yang tentu tidak sedap. Iya kalo hari ini panas, mungkin sore udah kering tuh bangkai, tapi kalo ujan… duh pastinya nambah bau dan sangat mungkin menjadi media penyebaran penyakit.

Sebenernya saya rada penasaran, apakah bangkai-bangkai tikus itu mati dengan sendirinya, maksudnya, si tikus stress karena jadi tikus trus bunuh diri di jalanan, atau si tikus udah tua bangka, pas melintas di jalan, eh… tau-taunya mati… atau pas si tikus itu mau mengunjungi saudaranya yang diseberang jalan, eh … sialnya dia tertabrak mobil ato motor yang kebetulan liwat, yang pastinya juga tidak sengaja untuk menabrakkan mobil atau motornya ke tikus tersebut. Hipotesis ini mungkin ada benarnya kalo bangkai tikus di jalan itu cuman satu.

Nah, bagaimana kalo ternyata jumlah bangkai tikus nya banyak? Apa iya si tikus juga mengunjungi keluarganya yang di seberang jalan secara beramai-ramai alias bergerombol? Tapi di TKP kan tidak ditemukan adanya moda transportasi masal bagi tikus?  Jadi, ini pasti ulah makhluk yang namanya manusia.

Jelasnya tikus memang jadi hama bagi kita, ngga di pedesaan… ngga di kota. Dan kita sepertinya juga hobi memburu tikus. Nah…. kalo sudah sukses memburu tikus, lantas diapain tuh si tikus? Mungkin bagi sebagian orang bingung mau diapain tuh bangkai (ato juga yang masih hidup). Jalan pintasnya ya itu, dibuang di jalanan dengan harapan ada motor atau mobil yang mau menipiskan bodi si tikus dan kering diterpa matahari.

Atau mungkin, si pelempar tikus di jalanan punya tujuan lain? Maksudnya gini, mungkin jalanan itu rame sehingga pelembar bertujuan agar para pelintas jalan merasa jijik dengan bangkai tikus, trus ngga liwat situ lagi. Atau parahnya lagi, si pelempar adalah psikopat… di merasa puas secara psikologis bila meliat korbannya mati dengan sempurna.

Atau juga, si pelempar terinspirasi dengan film suku Bar-Bar, yang dengan sengaja menyebar teror dengan cara melempar korbannya ke jalanan supaya tikus-tikus yang lain jangan coba-coba  mendekati areal itu, kalau tidak ingin di eksekusi macam tikus mati yang dilempar ditengah jalan tadi.

Terlepas dari berbagai analisa motivasi manusia melempar tikus ke jalanan, intinya hal itu tidaklah baik bagi kita karena meskipun tikus itu musuh kita, tapi kita juga tidak berhak menyiksa tikus itu dengan cara-cara yang tidak berperikebinatangan. Tikus itu juga mahluk tuhan, dia berhak hidup layak dan matipun juga layak. Hal itu juga tidak baik dilihat dari sektor kebersihan, keindahan dan pastinya kesehatan.

Nah, marilah kita mulai hidup sehat dengan membersihkan lingkungan sekitar kita sehingga tidak layak bagi tempat tinggal tikus, dan kalopun kita memburu tikus, hendaknya bangkainya jangan dilempar di jalanan, mungkin dikubur dengan kedalaman tertentu, atau bagi yang tidak punya lahan, sebaiknya dibungkus dengan plastik dan langsung dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir sehingga tidak mengotori lingkungan dan tetap menjaga keindahan.

4 April 2011 - Posted by | Catatan, Opini dan Harapan

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: