Pavarotto

Just Pavarotto, That's All !

Donor Darah? Yuk Mari ….

Barusan ikut mendonorkan darah ke Palang Merah Indonesia yang memang datang ke Kantor untuk ‘memungut’ darah pegawai yang ingin ‘menyalurkan’ darahnya ke orang-orang yang membutuhkan. Udah lama saya ngga ikut kegiatan ini. Di kartu donor darah saya tercatat kalo saya terakhir mendonorkan darah melalui Unit Mobil PMI tanggal 30 Juni 2009. Tapi saya rasa dan inget betul, di antara tanggal tersebut dan sekarang, saya pernah donor darah sekali, tapi tidak tercatat di Kartu Donor Darah, karena waktu itu lupa membawa kartunya.

Waktu pertama kalinya saya donor darah emang rada-rada takut, disamping takut jarum suntiknya karena dari ukuran jarumnya lebih gede dari jarum suntik obat, campur mitos yang ada tentang donor darah sepertinya kurang enak didenger. Ada yang bilang donor darah itu membikin kita tambah gemuk, membuat badan lemes, dan lain sebagainya.

Setelah cari-cari referensi, ternyata mitos itu semuanya tidak benar. Donor darah tidak ada kaitannya dengan kegemukan karena secara teori, kegemukan terjadi karena jumlah kalori yang masuk lebih banyak dari yang dikeluarkan. Donor darah tidak bikin kita lemes karena darah yang diambil hanya sekitar 250-500cc, sedangkan tubuh kita memiliki persediaan darah sekitar 5.000cc, kecuali setelah kita donor darah kita ngga makan seharian … lemes deh.

Manfaat donor darah tidak diragukan lagi, karena sudah banyak penelitian kedokteran yang menyatakan bahwa donor darah sangat baik buat kesehatan, diantaranya menjaga kesehatan jantung, menigkatkan produksi sel darah merah, membantu penurunan berat tubuh, mendapatkan kesehatan psikologis dan bisa mendeteksi adanya penyakit serius di tubuh kita.

Tapi ternyata masih ada juga orang yang sudah memenuhi syarat untuk donor darah tetapi masih ragu-ragu untuk mendonorkan darahnya, tentu dengan berbagai alasan, yang klasik misalnya takut jarum suntik, ada yang beralasan ”darah ko’ disumbangin, nyumbang itu duit”, takut tertular virus lah, dan masih ada juga yang beralasan dalil agama tidak membolehkan, apa iya?

Trus, bagaimana pandangan, khususnya bagi umat islam, MUI tentang donor darah? Sepanjang yang saya tau, dalam salah satu bagian Fatwa MUI DKI tentang Donor Darah di Bulan Puasa, tercantum bahwa MUI menganjurkan kepada seluruh warga DKI Jakarta, terutama umat islam agar berlomba-lomba manjadi donor darah tetap kepada Palang Merah Indonesia setempat. Karena dengan menjadi donor darah, berarti kita telah menyediakan darah untuk membantu orang-orang yang membutuhkannya. Besar kemungkinan, nanti orang-orang yang membutuhkan donor darah tersebut adalah diri atau keluarga dan teman sejawat kita sendiri. Disamping itu, pengambilan darah dari para penyumbang (donor) akan menambah kesehatan dan tidak akan membahayakan mereka karena hal itu dilakukan dengan syarat-syarat dan pemeriksaan medis.

Jadi, marilah kita berlomba-lomba mendonorkan darah kita untuk membantu sesama kita yang membutuhkan.

Sebagai tambahan, syarat-syarat orang ogar bisa mendonorkan darahnya adalah sebagai berikut :

  • Umur 17-60 tahun( usia 17 tahun diperbolehkan menjadi donor bila mendapat izin tertulis dari orang tua)
  • Berat badan minimal 45 kg
  • Temperatur tubuh: 36,6 – 37,5 derajat Celcius
  • Tekanan darah baik yaitu sistole = 110 – 160 mmHg, diastole = 70 – 100 mmHg
  • Denyut nadi teratur yaitu sekitar 50 – 100 kali/ menit
  • Hemoglobin Perempuan minimal 12 gram, sedangkan untuk pria minimal 12,5 gram
  • Jumlah penyumbangan per tahun paling banyak lima kali dengan jarak penyumbangan sekurang-kurangnya tiga bulan. Keadaan ini harus sesuai dengan keadaan umum donor.

Sedangkan Seseorang tidak boleh menjadi donor darah pada keadaan:

  • Pernah menderita hepatitis B
  • Dalam jangka waktu enam bulan sesudah kontak erat dengan penderita hepatitis
  • Dalam jangka waktu enam bulan sesudah transfusi
  • Dalam jangka waktu enam bulan sesudah tato/tindik telinga
  • Dalam jangka waktu 72 jam sesudah operasi gigi
  • Dalam jangka waktu enam bulan sesudah operasi kecil
  • Dalam jangka waktu 12 bulan sesudah operasi besar
  • Dalam jangka waktu 24 jam sesudah vaksinasi polio, influenza, kolera, tetanus dipteria, atau profilaksis
  • Dalam jangka waktu dua minggu sesudah vaksinasi virus hidup parotitis epidemica, measles, dan tetanus toxin
  • Dalam jangka waktu satu tahun sesudah injeksi terakhir imunisasi rabies therapeutic
  • Dalam jangka waktu satu minggu sesudah gejala alergi menghilang
  • Dalam jangka waktu satu tahun sesudah transplantasi kulit
  • Sedang hamil dan dalam jangka waktu enam bulan sesudah persalinan
  • Sedang menyusui
  • Ketergantungan obat
  • Alkoholisme akut dan kronis
  • Mengidap Sifilis
  • Menderita tuberkulosis secara klinis
  • Menderita epilepsi dan sering kejang
  • Menderita penyakit kulit pada vena (pembuluh darah balik) yang akan ditusuk
  • Mempunyai kecenderungan perdarahan atau penyakit darah, misalnya kekurangan G6PD, thalasemia, dan polibetemiavera
  • Seseorang yang termasuk kelompok masyarakat yang berisiko tinggi mendapatkan HIV/AIDS (homoseks, morfinis, berganti-ganti pasangan seks, dan pemakai jarum suntik tidak steril)
  • Pengidap HIV/ AIDS menurut hasil pemeriksaan saat donor darah.

5 April 2011 - Posted by | Catatan, Opini, Opini dan Harapan

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: